Arsip Bulanan: Februari 2016

Gangguan identitas gender

Gangguan identitas gender adalah lebih sederhana dijabarkan dalam Diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM IV) dibandingkan edisi ketiga yang direvisi (DSM II-R) yang menuliskan empat diagnosis gangguan gender yaitu gangguan gender pada masa anak-anak, transeksual, gangguan identitas jenis kelamin pada masa remaja dan dewasa, dan gangguan yang tidak ditentukan (Kaplan, 2002).

Nevid (2002) mengemukakan bahwa gangguan identitas gender dapat berawal dari masa kanak-kanak dengan disertai distress terus menerus dan intensif, bersikap seperti lawan jenis dan bergaul dengan lawan jenis, serta menolak sifat anatomi mereka dengan adanya anak perempuan yang memaksa buang air kecil sambil berdiri atau anak laki-laki yang menolak testis mereka.

b.Pengertian

Gangguan identitas gender adalah bagaimana seseorang merasa bahwa ia adalah seorang pria atau wanita, dimana terjadi konflik antara anatomi gender seseorang dengan identitas gendernya (Nevid, 2002). Identitas jenis kelamin adalah keadaan psikologis yang mencerminkan perasaan dalam diri seseorang sebagai laki-laki atau wanita (Kaplan, 2002). Fausiah (2003) berkata, identitas gender adalah keadaan psikologis yang merefleksikan perasaan daam diri seseorang yang berkaitan dengan keberadaan diri sebagai laki-laki dan perempuan.

c.Awal mula gangguan identitas gender

Gangguan identitas gender bermula dari trauma dari orang tua yang berlawan jenis, pergaulan individu, pengaruh media massa. Kaplan (2002), gangguan identitas gender ditandai oleh perasaan kegelisahan yang dimiliki seseorang terhadap jenis kelamin dan peran jenisnya. Gangguan ini biasanya muncul sejak masa kanak-kana sat usia dua hingga empat tahun (Green dan Blanchard dalam Fausiah, 2003).

d.Ciri-ciri klinis dari gangguan identitas gender (Nevid, 2002) :

1.identifikasi yang kuat dan persisten terhadap gender lainnya : adanya ekspresi yang berulang dari hasrat untuk menjadi anggota dari gender lain, preferensi untuk menggunakan pakaian gender lain, adanya fantasi yang terus menerus mengenai menjadi lawan jenis, bermain dengan lawan jenis,

2.perasaan tidak nyaman yang kuat dan terus menerus, biasa muncul pada anak-anak dimana anak laki-laki mengutarakan bahwa alat genitalnya menjijikkan, menolak permainan laki-laki, sedangkan pada perempuan adanya keinginan untuk tidak menumbuhkan buah dada, memaksa buang air kecil sambil berdiri.

e.Daftar Pustaka :

Fausiah, Fitri. (2003). Bahan ajar mata kuliah psikologi abnormal (klinis dewasa). Depok : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Kaplan, Harold I., Sadock, Benjamin J, Grebb, Jack A. (2002). Sinopsis psikiatri ilmu pengetahuan psiatri klinis. Jakarta : Binarupa Aksara.

Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., Greene, Beverly. (2002). Psikologi abnormal jilid dua edisi kelima. Jakarta : Erlangga.

f. Diedit dan diambil dari : http://tyaset4.blog.com/2010/02/gangguan-identitas-gender/

pernah diposting di http://www.kartunet.com/gangguanidentitasgender-3420/

Iklan

Tips Mengatasi Lupa

Menerima sebagai harfiah manusia biasa, namun harus dilawan
-Ingatkan yang bersangkutan mengenai janji/apa yang telah diucapkan/peraturan yang dilanggar
-Minum obat/suplemen, mohon maaf merek dagang tidak saya sebutkan
-Intropeksi diri apakah kita melawan perintah orang tua, menyakiti hati dan pikiran orang lain
-Sadari bahwa lupa menandakan otak lelah
-Tulis di agenda, kalender, reminder HP atau media apapun yang dimiliki (ini cukup efektif)
-Berusahalah untuk nulis/bicara dengan sugesti positif karena saat berkata lupa maka itu akan masuk ke alam bawah sadar dan membuat semakin lupa
-Berlatihlah dengan dibantu orang lain mulai dari hal kecil, misalnya menaruh buku
-Menerima kritik dan saran atau membuka diri karena pada dasar lupa itu yang perlu diingatkan oleh orang lain baik yang dikenal maupun asing
-Memahami setiap orang punya keterbatasan dengan empati/menempatkan diri menjadi orang lain/itu

Ini penting, soalnya kalau dibiarkan bisa menjadi disabilitas mental yakni Alzeimer.

Asahlah terus otak anda (http://kartinicenter.com/aneka-tips/415-tips-awet-muda-2.html)

Sejumlah data yang berhasil diungkap selama dua puluh tahun terakhir memastikan bahwa otak terus berkembang, mengembangkan neuron-neuron baru dan jaringan diantara neuron tersebut sepanjang hidup. Sebagai informasi tambahan, penyakit otak yang sering dihubungkan dengan pertambahan usia dapat dihilangkan dengan terus menstimulasi otak. Dr. Yakov Stern, Kepala Divisi Cognitive Neuroscience di Sergievsky Center, Universitas Columbia menyatakan bahwa “Individu yang terus menerus menstimulasi kehidupannya melalui pendidikan, pekerjaan, dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hobi, akan mengurangi kecenderungan terkena Alzheimer. Penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan terkena Alzheimer berkurang sebesar 35 hingga 40%.”

Pernah dipos di http://www.kartunet.com/tips-mengatasi-lupa-3044/

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Belum adanya penelitian mengenai ini membuat peneliti tertarik mengambil judul. Yang ada hanyalah locus of control dan emosi serta karyawan saja.

Peneliti memilih karyawan karena seorang individu yang diberi gelar karyawan harus menghadapi masalah-masalah dalam tempat kerjanya, seperti kurang harmonisnya dengan rekan kerja atau atasan, kurang keterbukaan, pekerjaan yang menumpuk dan dikejar deadline, menguras waktunya sampai malam hanya untuk bekerja. Dalam menghadapi masalah pasti akan muncul emosi dan konflik tertentu.

Penelitian ini bermanfaat karena karyawan akan lebih bisa menangani masalah yang dihadapinya dengan menggunakan teori baru ini.

B. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana gambaran locus of control emosi pada karyawan di PT….?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi locus of control emosi pada karyawan di PT….?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi locus of control emosi pada karyawan di PT.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Locus of control emosi adalah pengendalian emosi diri baik dari dalam maupun dari lingkungan.

 

 

METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Pendekatan Penelitian

 

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan melakukan pengamatan yang dilakukan dengan wawancara dan observasi subjek yang berusia antara 22 hingga 30 tahun yang diverifikasi dengan hasil wawancara dan observasi significant others dari subjek yang merupakan rekan kerja, atasan, dan bawahan di PT…

Metode ini cocok digunakan karena peneliti dapat mengamati bagaimana locus of control emosi pada karyawan dengan cukup memadai dengan syarat pemilihan significant others dipilih dari orang-orang terdekat yang mengamati subjek dengan baik, sehingga dapat menelaah kepada satu kasus yang dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensif.

Editor : Kartunet Karya Tunanetra on February 20, 2014 at 5:37 pm

dulu pernah di publish di http://www.kartunet.com/contoh-proposal-penelitian-kualitatif-2993/